Peringatan! Lelaki Suka “Membeli Seks” Ada Persamaan Dengan Perogol

Kaum lelaki yang gemar membeli seks, menurut penelitian mempunyai empati yang kurang pada perempuan yang diajak berhubungan berbanding lelaki yang tidak membeli seks. Lelaki yang suka “membeli”,  juga menurut penelitian itu lebih besar kemungkinannya mempunyai catatan jenayah pemerkosaan dan keagresifan seksual lainnya.

Penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan di wilayah Boston, dengan meneliti hampir 101 lelaki yang suka “membeli” dan 101 lelaki yang tidak suka membeli. Identiti sumber dalam penelitian ini dirahsiakan, sedangkan penelitian ini diterbitkan akhir Ogos tahun lalu dalam Journal of Interpersonal Violence.

Penelitian ini diterajui oleh Neil Malamuth yang merupakan tenaga pengajar di UCLA.  “Penelitian kami menemukan bahawa lelaki yang suka “membeli” ini memiliki persamaan karakter dengan lelaki yang gemar melakukan jenayah seksual,” kata Malamuth yang mengajar komunikasi dan psikologi.

“Dua kelompok itu (yang suka beli dan yang agresif) cenderung untuk mempunyai kegemaran untuk melakukan hubungan seks tanpa ada “perasaan” kemungkinan kerana rasa takut ditolak oleh perempuan, punya masalah jenayah seksual, dan merasa bahawa dirinya adalah “lelaki” yang sedemikian.

Rata-rata yang membeli seks mempunyai empati yang rendah pada perempuan yang ada di tempat pelacuran itu dan cenderung untuk menilai mereka sebagai berada pada tahap lebih rendah daripada perempuan lain,” papar Malamuth.

Penelitian ini ingin memupuskan mitos bahawa pembeli seks adalah lelaki “baik” yang kecewa. Pengarah Prostitution Research and Education di San Francisco menjelaskan pentingnya penelitian itu. ” Mempertimbangkan, kuatnya persamaan perilaku pelaku pemaksaan seksual dengan pembeli layanan seksual seharusnya pihak polis seharusnya boleh menghukum dengan cara yang progresif,” ujarnya.

” Apa yang dilakukan di Swedia dan Norwegia boleh menjadi contoh yang menempatkan pemilik pusat pelacuran sebagai penjenayah pemerdagangan perempuan yang berasal dari etnik dan latar belakang ekonomi yang terpinggir,” kata Melissa Farley pengarah lembaga syarikat swasta itu.

“Lelaki yang membeli seks sering menggambarkan tindakannya seperti membeli kopi, Dia akan membuangnya setelah mereka selesai meminumnya,” kata Farley yang mengandaikan pemkiran para pembeli layanan seksual.